"Tuhan, beri saya keberanian untuk mengubah apa yang dapat dan harus diubah, ketenangan untuk menerima apa yang tak dapat diubah dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya. -Doa Alcoholic Anonymous
Ditengah kegamangan, saya mencoba menulis. Mengasah kembali pisau ide. Mengais puing-puing keberanian. keberanian untuk selalu menghadapi kenyataan.
Sekarang saya tanya, Tuhan! Mengapa ada gamang? Mengapa ada galau? Mengapa ada Takdir?Mengapa ada puzzle yang mesti dibereskan? Mengapa mesti ada teka-teki yang dipecahkan?
Mario Teguh pernah berkata bahwa manusia memang selalu diliputi kontradiksi. Perasaan berkecamuk. Konon katanya, hal inilah yang selalu membuat manusia tumbuh.
Ketika menghadapi masalah, alam bawah sadar manusia membawa kita pada dua pilihan. Pilihan petama adalah melawan alias terus berjuang menaklukkan masalah, mencari solusi, menghadapinya. Pilhan kedua adalah lari. Berlari menjauh menghindari masalah. Berlari dari kenyataan. Opsi kedua tampak lebih menyenangkan bukan? Tetapi ingat, ketika kita lari dari masalah, berarti kita sedang berlari menuju masalah berikutnya. Masalah yang serupa, sama persis bahkan mungkin sama tetapi sudah 'bernanah' karena pernah kita abaikan. Semacam stereotipe yang memang harus kita lalui. Gunung yang mesti kita taklukkan. ketika kita tidak pernah menaklukan gunung (masalah-red) yang kita hadapi, maka kita tak akan pernah mencapai puncak, tidak merasakan nikmatnya berada di puncak setelah berletih-letih mendaki jalan yang terjal dan berliku. melihat pemandangan di bawah yang tampak menakjuban dan mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut.
"Kita bebas memilih respons kita terhadap situasi apapun, tetapi dalam melakukannya, kita memilih konsekuensi yang menyertainya"
Hidup memang sebuah pilihan. Walau kita tak pernah merasa memilih untuk dilahirkan, toh nyatanya kita telah lahir ke dunia. Kebaradaan kita di dunia pasti memiliki makna. Makna itulah yang harus selalu kita gali. Bagaimana kita bermakna bagi diri kita sendiri, kluarga, lingkungan sekitar. bagamana kita menjadi oran yang bermanfaat bagi orang lain.
Apakah yang kita harapkan dari hidup? Kebahagiaan? Keberasilan? Tetapi, apa pula tolak ukur kebahagiaan? Apakah keberhasilan? Bagi saya kebahagiaan sungguh abstrak, kadang absurd. Sedangkan keberhasilan bagi saya adalah keberhasilan terhadap diri sendiri, memiliki penguasaan dan kemenangan atas diri sendiri. Ingat, rasul dulu pernah bilang. Perang yang lebih hebat dari perang Badar adalah perang melawan Hawa nafsumu sendiri!
Ethos, Pathos, Logos
Jujur saja, saya menulis ini semua dalam rangka legitimasi keputusan hati saya yang belum terucap, belum juga ditetapkan hati saya. Saya bolak-balik menyambangi si ethos, pathos dan logos. Tulisan ini hadir bukan karena kenyataan Michael buble telah menikah 31 Maret lalu. Tulisan ini hadir justru karena ada yang mengajak menikah tetapi bukan Michael Buble, bukan pula cinta pertama saya jaman SMA. Ah, bukankah engkau pernah bilang bahwa di dunia ini tidak ada cinta, yang ada hanya suka...
-menjelang tengah malam, ditemani 95.1 KIS FM
Ditengah kegamangan, saya mencoba menulis. Mengasah kembali pisau ide. Mengais puing-puing keberanian. keberanian untuk selalu menghadapi kenyataan.
Sekarang saya tanya, Tuhan! Mengapa ada gamang? Mengapa ada galau? Mengapa ada Takdir?Mengapa ada puzzle yang mesti dibereskan? Mengapa mesti ada teka-teki yang dipecahkan?
Mario Teguh pernah berkata bahwa manusia memang selalu diliputi kontradiksi. Perasaan berkecamuk. Konon katanya, hal inilah yang selalu membuat manusia tumbuh.
Ketika menghadapi masalah, alam bawah sadar manusia membawa kita pada dua pilihan. Pilihan petama adalah melawan alias terus berjuang menaklukkan masalah, mencari solusi, menghadapinya. Pilhan kedua adalah lari. Berlari menjauh menghindari masalah. Berlari dari kenyataan. Opsi kedua tampak lebih menyenangkan bukan? Tetapi ingat, ketika kita lari dari masalah, berarti kita sedang berlari menuju masalah berikutnya. Masalah yang serupa, sama persis bahkan mungkin sama tetapi sudah 'bernanah' karena pernah kita abaikan. Semacam stereotipe yang memang harus kita lalui. Gunung yang mesti kita taklukkan. ketika kita tidak pernah menaklukan gunung (masalah-red) yang kita hadapi, maka kita tak akan pernah mencapai puncak, tidak merasakan nikmatnya berada di puncak setelah berletih-letih mendaki jalan yang terjal dan berliku. melihat pemandangan di bawah yang tampak menakjuban dan mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut.
"Kita bebas memilih respons kita terhadap situasi apapun, tetapi dalam melakukannya, kita memilih konsekuensi yang menyertainya"
Hidup memang sebuah pilihan. Walau kita tak pernah merasa memilih untuk dilahirkan, toh nyatanya kita telah lahir ke dunia. Kebaradaan kita di dunia pasti memiliki makna. Makna itulah yang harus selalu kita gali. Bagaimana kita bermakna bagi diri kita sendiri, kluarga, lingkungan sekitar. bagamana kita menjadi oran yang bermanfaat bagi orang lain.
Apakah yang kita harapkan dari hidup? Kebahagiaan? Keberasilan? Tetapi, apa pula tolak ukur kebahagiaan? Apakah keberhasilan? Bagi saya kebahagiaan sungguh abstrak, kadang absurd. Sedangkan keberhasilan bagi saya adalah keberhasilan terhadap diri sendiri, memiliki penguasaan dan kemenangan atas diri sendiri. Ingat, rasul dulu pernah bilang. Perang yang lebih hebat dari perang Badar adalah perang melawan Hawa nafsumu sendiri!
Ethos, Pathos, Logos
Jujur saja, saya menulis ini semua dalam rangka legitimasi keputusan hati saya yang belum terucap, belum juga ditetapkan hati saya. Saya bolak-balik menyambangi si ethos, pathos dan logos. Tulisan ini hadir bukan karena kenyataan Michael buble telah menikah 31 Maret lalu. Tulisan ini hadir justru karena ada yang mengajak menikah tetapi bukan Michael Buble, bukan pula cinta pertama saya jaman SMA. Ah, bukankah engkau pernah bilang bahwa di dunia ini tidak ada cinta, yang ada hanya suka...
-menjelang tengah malam, ditemani 95.1 KIS FM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar