Label

Selasa, 28 Februari 2012

Retorika Dinda & Kanda




Wahai pemuda jenaka
penggenggam cita
akankah kau memantik asa; menjelma dewasa
kelak sebelum mereka memanggilmu Yanda?


Wahai gadis jelita
pemikat akal nan raga
akankah kau menjadi sumber semangat; peniup asa 
bagi anak panah yang kelak memanggilmu Bunda?



Senin, 27 Feb 2012 23.24 wib ditemani murottal lalu Roxette

Minggu, 31 Juli 2011

Best Friend.

best friend!

This water bottle are my best friend. I bring it all day long and feel thirsty if i lost it. A must have stuff on your bag :)
   

Rabu, 25 Mei 2011

Trouble is a friends?

"Tuhan, beri saya keberanian untuk mengubah apa yang dapat dan harus diubah, ketenangan untuk menerima apa yang tak dapat diubah dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya. -Doa Alcoholic Anonymous

Ditengah kegamangan, saya mencoba menulis. Mengasah kembali pisau ide. Mengais puing-puing keberanian. keberanian untuk selalu menghadapi kenyataan.
Sekarang saya tanya, Tuhan! Mengapa ada gamang? Mengapa ada galau? Mengapa ada Takdir?Mengapa ada puzzle yang mesti dibereskan? Mengapa mesti ada teka-teki yang dipecahkan?
Mario Teguh pernah berkata bahwa manusia memang selalu diliputi kontradiksi. Perasaan berkecamuk. Konon katanya, hal inilah yang selalu membuat manusia tumbuh.
Ketika menghadapi masalah, alam bawah sadar manusia membawa kita pada dua pilihan. Pilihan petama adalah melawan alias terus berjuang menaklukkan masalah, mencari solusi, menghadapinya. Pilhan kedua adalah lari. Berlari menjauh menghindari masalah. Berlari dari kenyataan. Opsi kedua tampak lebih menyenangkan bukan? Tetapi ingat, ketika kita lari dari masalah, berarti kita sedang berlari menuju masalah berikutnya. Masalah yang serupa, sama persis bahkan mungkin sama tetapi sudah 'bernanah' karena pernah kita abaikan. Semacam stereotipe yang memang harus kita lalui. Gunung yang mesti kita taklukkan. ketika kita tidak pernah menaklukan gunung (masalah-red) yang kita hadapi, maka kita tak akan pernah mencapai puncak, tidak merasakan nikmatnya berada di puncak setelah berletih-letih mendaki jalan yang terjal dan berliku. melihat pemandangan di bawah yang tampak menakjuban dan mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut.


"Kita bebas memilih respons kita terhadap situasi apapun, tetapi dalam melakukannya, kita memilih konsekuensi yang menyertainya"

Hidup memang sebuah pilihan. Walau kita tak pernah merasa memilih untuk dilahirkan, toh nyatanya kita telah lahir ke dunia. Kebaradaan kita di dunia pasti memiliki makna. Makna itulah yang harus selalu kita gali. Bagaimana kita bermakna bagi diri kita sendiri, kluarga, lingkungan sekitar. bagamana kita menjadi oran yang bermanfaat bagi orang lain.
Apakah yang kita harapkan dari hidup? Kebahagiaan? Keberasilan? Tetapi, apa pula tolak ukur kebahagiaan? Apakah keberhasilan?  Bagi saya kebahagiaan sungguh abstrak, kadang absurd. Sedangkan keberhasilan bagi saya adalah keberhasilan terhadap diri sendiri, memiliki penguasaan dan kemenangan atas diri sendiri. Ingat, rasul dulu pernah bilang. Perang yang lebih hebat dari perang Badar adalah perang melawan Hawa nafsumu sendiri!

Ethos, Pathos, Logos

Jujur saja, saya menulis ini semua dalam rangka legitimasi keputusan hati saya yang belum terucap, belum juga ditetapkan hati saya. Saya bolak-balik menyambangi si ethos, pathos dan logos. Tulisan ini hadir bukan karena kenyataan Michael buble telah menikah 31 Maret lalu. Tulisan ini hadir justru karena ada yang mengajak menikah tetapi bukan Michael Buble, bukan pula cinta pertama saya jaman SMA. Ah, bukankah engkau pernah bilang bahwa di dunia ini tidak ada cinta, yang ada hanya suka...

-menjelang tengah malam, ditemani 95.1 KIS FM

Senin, 25 Oktober 2010

Mangga di hari Minggu

                                untuk kakek tua

Musim mangga datang
pohon mangga bersolek dengan riang
ada yg bergincu merah, orens, kuning
gincu hijau terasa sudah pasaran.
warna mempengaruhi rasa, katanya!

seorang gadis berangkat ke pasar dengan berat hati
becek dan panas sudah membayang di pelupuk
belum lagi harga yang melambung tinggi bak layangan
melayang tinggi, lalu nyangkut digedong
urung turun karena keasikan.

gadis masih berbelanja di tengah hari
belanja yang kesiangan
pasar masih ramai
pedagang mengimingi pembeli
peminta-minta memelas bermain mata
pembeli acuh dengan realita
pencari sayuran sisa memunguti emas
untuk kaumnya yang dilindungi negara

selepas belanja
sang gadis menuju istananya.
di tengah jalan ia melihat kakek tua beruban
mengaso,
mangga dagangannya tampak kuyu, lesu

iba menggerakkan turbin hati si gadis
turbinpun berputar hingga menggerakkan tangan si gadis
menjulurkan tigaribu rupiah tanpa mengharap mangga

selepas belanja
sang gadis menuju istananya
di tengah jalan ia dipanggil bapak paruh baya yg mengendarai
motor baru, kinclong pula
tak dapat uang makan, kelaparan, mau pulang, katanya!
instan menggerakkan otak si gadis, berputar
membuat tangannya mengambil uang sepuluhribuan

si gadis pulang dengan sekantong belanjaan di tangan kiri
empat buah mangga harum manis di tangan kanan
hati yang menggumam doa untuk pemikul mangga
dan rasa tak percaya dan waspada

jadi, siapa lebih mulia?

Selasa, 14 September 2010

Lost


 
 
Baru saja saya ingin ngeblog setiap hari, eh laptop
kesayangan saya (di)rusak (ponakan). 
Saya marah, kesal, sebal, pingin teriak, pingin nonjok,
instrospeksi, ini teguran kah. 
PokoknyakBerkecamuk! aargh.
Minggu pagi baru saja saya gunakan untuk ngeblog, 
malamnya sudah rusak :( 
Sebenarnya laptop saya masih hidup,
cuma ada beberapa bagian yang patah. 
Lebih tepatnya hancur!
Saya masih bersyukur tidak kehilangan data di dalamnya.
Alhamdulillah.
Namun, masih jg kesal karena itu laptop apple kesayangan saya.
Saya belum berencana untuk beli produk apple (lagi).  
(Tapi saya lg mau ngumpulin Dinar!)
 
When you feel like you've done, 
and the darkness has won. Babe you're not lost!
 
Pagi hari saya males bangun, 
pas bangun rasanya keingetan laptop saya yg rusak (namany Pibi)
...aahhh, Pibi rusak, Pibi patah, pibi sakit!
Umi saya dengan sabar tetap membangunkan saya 
tuk sholat shubuh.
Akhirnya saya bangun juga, 
lalu bicara dengan umi saya kalau 
saya sedang sedih dan kecewa (dgn yg merusakny)
You know, my mom is the best! 
She understood when i made her sigh,
 she cared for me when i was sad!
Kebetulan pada hari itu saya memang sdh mengagendakan 
bersilaturahim ke guru ngaji saya. 
Berangkatlah saya bersama adik dan kakak-kakak saya 
yg mulai berdatangan dari berbagai penjuru. 
Nah, disinilah saya baru terperangah. 
waktu bergulir, hikmah-hikmah pun mulai tersibak.
 
Tulang Rusuk 

sesampainya di rumah Umi Firdaus Hanim. kami bercengrama, 
basa-basi lebaran dsb. banyak murid umi yg lain jg berdatangan, 
membuat kami berkesempatan silaturahim satu sama lain.
FYI, suami guru saya itu baru saja meninggal dunia 
sekitar sebulanan sblm ramadhan. 
Ada rona kesedihan mendalam di paras umi Firdaus Hanim. 
Beliau banyak bercerita tentang suaminya itu.
persis seperti umi saya yg dulu 
 jg banyak mengulang cerita yg sama di masa iddahnya.
disini saya baru sadar, bahwa kehilangan sekadar harta benda 
tak sebanding dengan kehilangan orang yang kita sayangi.
orang yang kita cintai. orang yg telah mendampingi 
hampir sepenuh hidup kita. Tulang rusuk kita.
 
 

Sabtu, 11 September 2010

Jatuh Hati

Lust is easy, love is hard!


Semalam saya membaca blog penulis dan penyair cilik, Abdurrahman Faiz. Lama saya membaca. Semakin larut saya membaca, semakin saya jatuh hati dengan gaya menulisnya yg tulus dan mengena di hati. Benar-benar tulisan yg lahir dari hati. Topiknya benar-benar keseharian mas Faiz namun disaji dengan bahasa yang polos, kadang metaforis. Dulu, blog yg sering saya kunjungi, blok teh Ninit Yunita dan tentu saja Pandji Pragiwaksono wongsoyudo, hehe. Tapi seiring waktu berjalan, saya jarang baca, jadi kudet (kurang updet).

Ngomong-ngomong tentang jatuh cinta, rasanya sudah lamaaaaaa sekali saya asing dengan hal yg satu ini. Terakhir kali saya jatuh hati (bukan jatuh cinta ya, catet! kalo jatuh hati lebih dalem, bok) yakni tahun 2007. Ketika jatuh hati  rasanya banyak inspirasi, jago bikin puisi. Satu sisi sangat indah, tapi di sisi lain sakit, entah kenapa. Rasa sakit yg mungkin lahir dari rasa takut kehilangan. Yaaah, namanya juga jatuh, ya pasti sakit.

Tiba-tiba ngomongin jatuh hati, kenapa nih?

Perasaan ini lahir karena saya sangat iri ketika membaca puisi-puisi mas Faiz. saya ingin sekali bisa menulis puisi. puisi yg lahir dari hati. Puisi mas Faiz begitu menyentuh, begitu terasa kalau puisi ini lahir dari hati (selain iu, terasa kalo mas faiz itu sdh banyak melahap buku). Rasanya ingin sekali saya jatuh hati (lagi) lalu banyak melahirkan puisi. Tetapi rasanya kok sulit sekali ya? Entah karena masih ada serpihan hati saya yg terjatuh entah dimana, tertinggal di suatu tempat atau terserak di jalan. Entah!

Lalu saya berpikir, mengapa harus menunggu nuansa. Menunggu suasana. Menunggu jatuh hati (lagi).
Mengapa harus mood yang menuntun kita. Bukankah sebaliknya, kitalah yg menuntun mood. Kadang mood bisa jadi berhala-berhala kecil kalo selalu kita turuti.

Sayup-sayup lagu "The man cant be move" The Script mulai habis, berganti dengan lagu "Moving On" Andien ;)

Rabu, 21 Juli 2010

pasangan sepasang sepatu

May you never steal, lie, or cheat, but if you must steal, then steal away my sorrows, and if you must lie, lie with me all the nights of my life, and if you must cheat, then please cheat death because I couldn't live a day without you. -Leap Year


Quote diatas adalah ucapan penantin wanita di film Leap Year. Bagi saya, quote ini terdengar unik dan tak terasa gombal. Justru terasa romantis. Bahagianya jika kita telah menemukan orang tersebut. Pasangan sehidup semati. 

Bagi saya, pasangan itu ibarat sepatu. Setiap perempuan membutuhkan sepatu. Sepatu yang nyaman. Sepatu andalan yang bisa dipakai kapan saja saat dibutuhkan. Percaya atau tidak. Hal itulah yg menjadi masalah saya. Sepatu!

Saya termasuk orang yang senang membeli sepatu. Entah karena suka modelnya, bagus, lucu, terlebih lagi karena ada diskon. yippi. Casual dan ortopedis adalah tipe sepatu favorit saya. Kadangkala, saya membeli sepatu dengan model yg sama hanya beda warna. Warna sepatu saya kebanyakan bernuansa putih, krem, beige dan cokelat. Hitam adalah warna yg paling saya hindari. Ada sepatu yg saya selalu pakai. Ada pula sepatu yg sekali pakai, tidak pernah saya gunakan lagi. Bahkan, ada yg belum pernah saya gunakan sama sekali. 

Permasalahannya, sulit sekali menemukan sepatu yang nyaman. Sepatu yang bisa menjadi andalan kapan saja dibutuhkan. Setiap kali saya bernapsu membeli sebuah sepatu, saya kerap kali berkata "Ini dia sepatu yang gw cari!" atau "Ini sepatu yg gw cari selama ini!", dsb. Tetapi, ketika saya coba gunakan untuk menemani aktivitas saya, selalu saja ada yang tidak berkenan. Mulai dari  ternyata kebesaran, kekecilan, tidak enak diajak lari, tidak relevan dipakai ke sebuah pesta walau nyaman, tidak tahan dengan berat badan saya, dsb. Bagi saya merk dan harga memang berpengaruh terhadap kenyamanan tetapi tak selalu menjamin. Ada sepatu saya yg harganya cuma 45rb tetapi sangat nyaman dipakai, sering saya gunakan hingga jebol. (apa karna harganya murah ya jadi gak kuat?hehe). Jadi, tak harus Jimmy Choo atau Manolo Blahnik. 

Sampai sekarang masih menjadi misteri bagi saya menemukan sepatu andalan yg reliable. Tak heran saya sering gonta-ganti sepatu dan beli sepatu dalam rangka mencari sepatu 'kaca' saya, haha. tak heran saya dipanggil "Miss cantik yg suka gonta-ganti sepatu" oleh murid-murid saya. (Gak nyangka jg dibilang cantik dan diperatiin sampai ujung kaki, haha). 

Lalu, bagaimana implikasiny terhadap pasangan. Pasangan untuk orang yang mencari sepasang sepatu nyaman(?) 

the implication is that no one shoe cant pair with a very different, bizzare shoe...