Lust is easy, love is hard!
Semalam saya membaca blog penulis dan penyair cilik, Abdurrahman Faiz. Lama saya membaca. Semakin larut saya membaca, semakin saya jatuh hati dengan gaya menulisnya yg tulus dan mengena di hati. Benar-benar tulisan yg lahir dari hati. Topiknya benar-benar keseharian mas Faiz namun disaji dengan bahasa yang polos, kadang metaforis. Dulu, blog yg sering saya kunjungi, blok teh Ninit Yunita dan tentu saja Pandji Pragiwaksono wongsoyudo, hehe. Tapi seiring waktu berjalan, saya jarang baca, jadi kudet (kurang updet).
Ngomong-ngomong tentang jatuh cinta, rasanya sudah lamaaaaaa sekali saya asing dengan hal yg satu ini. Terakhir kali saya jatuh hati (bukan jatuh cinta ya, catet! kalo jatuh hati lebih dalem, bok) yakni tahun 2007. Ketika jatuh hati rasanya banyak inspirasi, jago bikin puisi. Satu sisi sangat indah, tapi di sisi lain sakit, entah kenapa. Rasa sakit yg mungkin lahir dari rasa takut kehilangan. Yaaah, namanya juga jatuh, ya pasti sakit.
Tiba-tiba ngomongin jatuh hati, kenapa nih?
Perasaan ini lahir karena saya sangat iri ketika membaca puisi-puisi mas Faiz. saya ingin sekali bisa menulis puisi. puisi yg lahir dari hati. Puisi mas Faiz begitu menyentuh, begitu terasa kalau puisi ini lahir dari hati (selain iu, terasa kalo mas faiz itu sdh banyak melahap buku). Rasanya ingin sekali saya jatuh hati (lagi) lalu banyak melahirkan puisi. Tetapi rasanya kok sulit sekali ya? Entah karena masih ada serpihan hati saya yg terjatuh entah dimana, tertinggal di suatu tempat atau terserak di jalan. Entah!
Lalu saya berpikir, mengapa harus menunggu nuansa. Menunggu suasana. Menunggu jatuh hati (lagi).
Mengapa harus mood yang menuntun kita. Bukankah sebaliknya, kitalah yg menuntun mood. Kadang mood bisa jadi berhala-berhala kecil kalo selalu kita turuti.
Sayup-sayup lagu "The man cant be move" The Script mulai habis, berganti dengan lagu "Moving On" Andien ;)
Sabtu, 11 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar