untuk kakek tua
Musim mangga datang
pohon mangga bersolek dengan riang
ada yg bergincu merah, orens, kuning
gincu hijau terasa sudah pasaran.
warna mempengaruhi rasa, katanya!
seorang gadis berangkat ke pasar dengan berat hati
becek dan panas sudah membayang di pelupuk
belum lagi harga yang melambung tinggi bak layangan
melayang tinggi, lalu nyangkut digedong
urung turun karena keasikan.
gadis masih berbelanja di tengah hari
belanja yang kesiangan
pasar masih ramai
pedagang mengimingi pembeli
peminta-minta memelas bermain mata
pembeli acuh dengan realita
pencari sayuran sisa memunguti emas
untuk kaumnya yang dilindungi negara
selepas belanja
sang gadis menuju istananya.
di tengah jalan ia melihat kakek tua beruban
mengaso,
mangga dagangannya tampak kuyu, lesu
iba menggerakkan turbin hati si gadis
turbinpun berputar hingga menggerakkan tangan si gadis
menjulurkan tigaribu rupiah tanpa mengharap mangga
selepas belanja
sang gadis menuju istananya
di tengah jalan ia dipanggil bapak paruh baya yg mengendarai
motor baru, kinclong pula
tak dapat uang makan, kelaparan, mau pulang, katanya!
instan menggerakkan otak si gadis, berputar
membuat tangannya mengambil uang sepuluhribuan
si gadis pulang dengan sekantong belanjaan di tangan kiri
empat buah mangga harum manis di tangan kanan
hati yang menggumam doa untuk pemikul mangga
dan rasa tak percaya dan waspada
jadi, siapa lebih mulia?
Musim mangga datang
pohon mangga bersolek dengan riang
ada yg bergincu merah, orens, kuning
gincu hijau terasa sudah pasaran.
warna mempengaruhi rasa, katanya!
seorang gadis berangkat ke pasar dengan berat hati
becek dan panas sudah membayang di pelupuk
belum lagi harga yang melambung tinggi bak layangan
melayang tinggi, lalu nyangkut digedong
urung turun karena keasikan.
gadis masih berbelanja di tengah hari
belanja yang kesiangan
pasar masih ramai
pedagang mengimingi pembeli
peminta-minta memelas bermain mata
pembeli acuh dengan realita
pencari sayuran sisa memunguti emas
untuk kaumnya yang dilindungi negara
selepas belanja
sang gadis menuju istananya.
di tengah jalan ia melihat kakek tua beruban
mengaso,
mangga dagangannya tampak kuyu, lesu
iba menggerakkan turbin hati si gadis
turbinpun berputar hingga menggerakkan tangan si gadis
menjulurkan tigaribu rupiah tanpa mengharap mangga
selepas belanja
sang gadis menuju istananya
di tengah jalan ia dipanggil bapak paruh baya yg mengendarai
motor baru, kinclong pula
tak dapat uang makan, kelaparan, mau pulang, katanya!
instan menggerakkan otak si gadis, berputar
membuat tangannya mengambil uang sepuluhribuan
si gadis pulang dengan sekantong belanjaan di tangan kiri
empat buah mangga harum manis di tangan kanan
hati yang menggumam doa untuk pemikul mangga
dan rasa tak percaya dan waspada
jadi, siapa lebih mulia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar